Langsung ke konten
Minggu, 31 Mei 2026 Portal Berita Terkini & Terpercaya
Berhasil!
Berita

Hubungan Trump dan Netanyahu Mulai Retak... Serangan IRAN Picu Kerugian Besar bagi AS

SuaraBogani.com__ Hubungan antara mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan berada di ambang kehancuran. Ketegangan ini tak hanya bersifat pribadi, tetapi sudah berdampak besar pada stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan militer Amerika Serikat.

Sumber internal yang dekat dengan lingkaran Trump menyebutkan bahwa kemarahan mantan presiden itu berpuncak setelah Netanyahu mengabaikan seruannya untuk menghentikan eskalasi militer terhadap Iran. Alih-alih menuruti anjuran untuk melakukan gencatan senjata, Netanyahu justru meluncurkan serangan besar-besaran ke berbagai fasilitas strategis Iran, termasuk wilayah yang sangat sensitif secara geopolitik.

Trump merasa dirinya telah dimanfaatkan. Semasa menjabat, ia memberikan berbagai dukungan strategis besar kepada Israel. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dukungan terhadap kebijakan agresif di Tepi Barat, hingga keputusan kontroversial menarik AS dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA), semuanya dilakukan dengan keyakinan bahwa hubungan kedua negara akan tetap kokoh dan saling mendukung.

Namun kenyataannya, menurut Trump, Netanyahu justru membalas dengan ketidaksetiaan. Tidak hanya mengabaikan komunikasi strategis, Netanyahu juga dinilai mengambil keputusan sepihak dalam melancarkan operasi militer terhadap Iran. Operasi ini, yang dilakukan tanpa koordinasi penuh dengan Amerika Serikat, menjadi pemicu utama balasan besar dari Iran.

Sebagai respons atas agresi Israel yang didukung secara diam-diam oleh AS, Iran melancarkan serangan ke dua titik penting milik militer Amerika: sebuah kapal induk di Teluk Persia dan pangkalan militer AS di Qatar. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk rusaknya dek kapal induk dan lumpuhnya sistem radar utama. Di Qatar, gudang senjata dan pusat komunikasi utama di pangkalan militer mengalami kehancuran besar.

Beberapa pejabat pertahanan AS menyebut serangan ini sebagai salah satu pukulan paling parah dalam satu dekade terakhir. Meskipun jumlah korban jiwa belum diungkap secara resmi, kerugian strategis dan psikologis terhadap kekuatan militer AS di kawasan sangat terasa.

Trump pun mengungkapkan kekecewaannya secara tersirat melalui platform media sosial X, menyatakan bahwa dirinya pernah berdiri di garis depan demi mendukung Israel, namun dikhianati ketika serangan balasan menghantam tentaranya. Ia menuding ada pemimpin yang hanya datang saat butuh, namun menghilang saat sahabatnya diserang.

Situasi ini menyoroti rapuhnya aliansi strategis antara AS dan Israel, terutama ketika hubungan antar-pemimpinnya dipenuhi ketidakpercayaan. Perpecahan ini tidak hanya melemahkan posisi AS dalam percaturan politik Timur Tengah, tetapi juga membuka celah bagi musuh-musuhnya untuk menyerang dengan keyakinan bahwa Washington sedang goyah.

Kini, mata dunia tertuju pada langkah lanjutan yang akan diambil oleh AS. Akankah Washington memilih jalur diplomasi, atau justru terpancing untuk membalas dengan kekuatan militer penuh?

B

Kontributor SuaraBogani.com — menyajikan berita terkini, akurat, dan berimbang untuk masyarakat Indonesia.